Kumpulan Info Seputar Crop Circle Di Sleman Jogja…

Lambang ‘ UFO ‘ di Sleman Diapit Tiga Bukit

blog-apa-aja.blogspot.com
YOGYAKARTA– Lambang Unidentified Flying Object (UFO) yang menghebohkan warga Sleman, Yogyakarta, terdapat di kawasan persawahan yang diapit tiga bukit. Daerah ini juga cukup jauh dari pemukiman warga.
“Daerahnya sepi karena hamparan sawah yang luas, paling hanya satu atau dua rumah di situ. Diapit tiga bukit yaitu Gunung Suru, Candi Abang, dan Gunung Bangkel,” ujar salah seorang warga setempat, Pradhita Wahyu, kepada detikcom, Senin (24/1/2011).

Karena jarak yang cukup jauh dari pemukiman warga inilah, tak banyak warga yang tahu proses pembentukan lingkaran aneh berdiameter 70 meter ini. Namun seorang anak kecil sempat melihat ada pusaran angin puting beliung yang membentuk lingkaran aneh ini.
Para ahli pernah meneliti pembentukan crop circle yang terbentuk di persawahan yang diapit oleh bukit. Sejumlah ahli pun menyimpulkan bahwa crop circle di lokasi terjepit perbukitan disebabkan oleh angin tornado.
Ahli fisika dari Universitas Michigan, AS, Delon Smith, menuturkan bahwa angin tornado adalah sebab utama yang menyebabkan lingkaran aneh itu. Melalui risetnya dia mendapati bahwa sejumlah besar lingkaran aneh di ladang gandum yang muncul di sisi gunung, dimana tempat seperti ini adalah tempat yang mudah membentuk angin tornado.
Jika benar angin puting beliung yang ‘menggambar’ lingkaran aneh di Sleman, apakah angin tornado dapat membuat lingkaran yang simetris? Hingga saat ini ilmuwan belum menemukan jawabannya.
Sebelumnya diberitakan, warga Sleman, Yogyakarta, dihebohkan oleh tanda misterius di persawahan yang muncul usai angin kencang. Warga setempat meyakini tanda yang berbentuk lingkaran raksasa tersebut sebagai pendaratan  pesawat ‘UFO’ dari planet lain.
Lambang tersebut berbentuk lingkaran berdiameter 70 meter. Di tengah lingkaran raksasa tersebut terdapat lambang misterius. Tanda tersebut dibentuk oleh hamparan padi yang rebah setelah angin kencang tersebut.
Pihak Kepolisian pun membenarkan munculnya lambang misterius ‘UFO’ tersebut. Polisi bahkan sudah mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Sumber : Detik

Jejak Lingkaran Besar UFO Ditemukan di Sleman?

Senin, 24 Januari 2011 | 11:01 WIB

Diduga fenomena Crop Circle di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto:Natsir Kanthil

TEMPO Interaktif, Sleman -Lingkaran besar terbentuk di persawahan di dusun Krasakan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lingkaran itu berdiameter sekitar 25-30 meter. Ornamen tengah terdapat lingkaran kecil, bentuk segitiga lalu lingkaran besar hingga lingkaran paling besar.

“Kejadian sejak kemarin (23/1) pagi, saya kira itu seperti jejak pesawat makhluk angkasa luar seperti di televisi,” kata Cahyo Utomo, warga Krasakan, Senin (24/1).

Jejak itu sangat besar dan tampak seperti jejak UFO (unidentified flying object) layaknya yang digambarkan dalam film atau berita di televisi di beberapa daerah di luar negeri.

Persawahan yang berada di pinggir jalan kampung itu seperti karya seni yang indah. Tidak ada jejak yang merusak padi yang ada di sekitar lingkaran. Lingkaran itu pun terbentuk dari pohon-pohon padi yang masih hijau. “Kalau kena angin tidak mungkin, karena bentuknya sangat rapi, kalau hewan yang membuat itu juga tidak mungkin,” kata dia.

Adanya lingkaran yang diduga jejak pesawat luar angkasa itu ditemukan pertama kali oleh petani Tukiman sekitar pukul 06.00 WIB. Sawah yang menjadi lingkaran itu terdiri dari 8 kotak sawah.

Saat Tempo melihat dari bukit Suru yang berada di jarak 200 meter dari lingkaran, tampak seperti jejak UFO. Warga sekitar tampak melihat-lihat fenomena langka tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Besar Irwan Ramaini belum bisa memastikan lingkaran tersebut apakah jejak UFO atau fenomena alam lainnya. Yang pasti jejak lingkaran besar itu masih diselidiki secara ilmiah. “Kami belum bisa memastikan itu jejak apa, bisa jadi fenomena alam atau yang lainnya,” kata dia.


sumber : Tempo

Astronom: Crop Circle Sleman Buatan Manusia

Senin, 24 Januari 2011 | 11:30 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung – Kalangan astronom di Bandung tidak yakin UFO sempat sowan ke Sleman, Ahad (23/1) kemarin. Mereka percaya crop circle di lahan pertanian di sana hasil karya tangan manusia, bukan makhluk luar angkasa.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan pola-pola lingkaran teratur di tanah pertanian (crop circle) seperti di Sleman, Yogyakarta, sudah banyak dijumpai di luar negeri terutama di Inggris. Sebagian orang mempercayainya sebagai bukti kedatangan Unidentified Flying Objects (UFO).  “UFO sendiri secara ilmiah dianggap tidak ada,” kata Djamaluddin lewat blognya, Senin (24/1) setelah Tempo meminta penjelasannya soal dugaan UFO di Sleman.

Menurut dia, penjelasan kesaksian UFO cenderung bersifat hoax (kabar bohong), rekayasa, atau tergolong pseudosains (sains semu). Walau astronom meyakini adanya kehidupan di luar bumi, tetapi sampai saat ini belum terbukti ada bukti fisik makhluknya, apa lagi yang berkunjung ke bumi dengan pesawat antariksanya. “Masyarakat kadang terbawa informasi yang bersumber dari cerita-cerita fiksi ilmiah, termasuk dari film-film yang sebenarnya hanya khayalan,” ujarnya.

Kalau UFO tidak ada, kata astronom senior itu, maka pola geometris crop circle dipastikan bukan disebabkan oleh manuver pesawat antariksa atau UFO. Pola geometris di Sleman dipastikan juga bukan disebabkan oleh puting beliung atau pengaruh elektromagnetik dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

“Puting beliung tidak akan menghasilkan pola yang rapi, SUTET pun tidak akan memberi dampak pola geometris, karena tanaman padi tidak terpengaruh oleh medan listrik,” jelasnya. Dia menduga crop circle itu hasil rekayasa tangan-tangan kreatif, seperti terjadi di beberapa negara lain.

Pada 1990-an, kata Djamaluddin, dua orang Inggris membuka rahasia crop circle sebagai karya mereka. Mereka  mempraktekkannya dengan menggunakan tali dan papan.

Mereka menancapkan satu tonggak sebagai pusat lingkaran. Lalu tali yang digantungi papan diputar mengelilingi tonggak tersebut. Radius lingkaran tergantung pengaturan letak papan. Pola garis lurus dan segitiga juga bisa dibuat dengan cara-cara yang kreatif.

Kepala Observatorium Bosscha Hakim L Malasan mengatakan, terlalu dini menganggap crop circle itu sebagai ulah UFO. Dia pun lebih condong menilai karya itu sebagai rekayasa manusia. “Bukan tidak percaya UFO, tapi belum yakin selama ini kita sudah kontak dengan makhluk luar angkasa,” ujarnya, Senin (24/1).

Sumber : Tempo

Blog ini
Di-link Dari Sini
Blog ini
Di-link Dari Sini

 

Bentuk Crop Circle Atau Jejak UFO Di Yogyakarta

 

Foto Bentuk crop circle atau Jejak UFO Di Yogyakarta
Bentuk geometris aneh yang terbentuk di areal persawahan daerah Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu (23/1/2011), membawa berkah untuk Yudi (20). Foto milik pemuda yang pertama kali melihat munculnya pola aneh di areal persawahan itu, laris manis dibeli pengunjung yang datang.

“Saya tadi siang ambil foto-foto ini dengan menggunakan HP. Saya sampai memanjat pohon dan menara sutet untuk motret. Buat yang mau, saya jual Rp 2.000 per foto,” kata Yudi, saat ditemui di kampung itu, Senin (24/1/2011) dini hari.

Orang yang menginginkan foto-foto dari Yudi, tinggal mengaktifkan bluetooth untuk mentransfer dari HP. Setelah foto tertransfer, sang pengunjung langsung membayarnya. Sampai Senin (24/1/2011) dinihari , Yudi mengaku sudah mendapatkan Rp 200 ribu. “Itung-itung buat beli rokok dan uang lelah saya manjat pohon,” ucapnya sambil tertawa.

Pola berbentuk lingkaran di sawah tersebut biasa disebut crop circle. Fenomena tersebut selama ini dikait-kaitkan dengan kehadiran UFO (unidentified flying object) dan alien.

Lokasi Jejak UFO
Lingkaran-lingkaran aneh yang muncul di areal persawahan daerah Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menarik perhatian warga dan menjadi tontonan banyak orang sejak Minggu (23/1/2011) pagi. Bagaimana tidak menarik, pola lingkaran berdiameter sekitar 60 meter itu mirip crop circle yang biasa dihubung-hubungkan dengan unidentified flying object (UFO) dan alien. Tentu sayang untuk dilewatkan.

Saat ini, di sekeliling pola lingkaran tersebut dipasangi batas dari tali plastik yang diikatkan pada bambu. “Biar orang yang menonton tidak turun ke sawah. Nanti padi-padi yang masih berdiri bisa rusak karena diinjak-injak,” kata Jumadi, yang sawahnya terkena pola lingkaran.

Lokasi tersebut agak jauh dari perkampungan warga. Rumah terdekat adalah milik Basori (41), yang berada di sekitar 50 meter arah utara areal persawahan itu. Selain itu, ada rumah Yudi (20), yang tepat berhadapan dengan rumah Basori.

Untuk mencapai lokasi pola lingkaran tersebut, Anda bisa melewati Bandara Internasional Adisucipto ke arah timur. Sampai di percetakan Kedaulatan Rakyat, balik arah ke barat. Kemudian di pertigaan Kalitirto, Berbah, menuju ke selatan.

Sesampainya Anda di pertigaan Kalitirto, belok ke arah timur. Sekitar 6 kilometer Anda akan sampai di jalan alternatif Yogyakarta-Prambanan. Di Desa Jogotirto inilah Anda dapat dengan mudah menemukan fenomena pola lingkaran yang sering dikaitkan dengan kedatangan UFO.

Selain itu, untuk ke lokasi itu juga bisa ditempuh dari arah Piyungan, Bantul. Dari pertigaan SPBU Payak di Jalan Wonosari belok ke utara. Sekitar 1 kilometer dari pertigaan tersebut, Anda akan sampai di lokasi. Letaknya persis di tepi jalan alternatif Yogyakarta-Prambanan

Bisa Buatan Alien Atau Manusia
Crop circle selama ini sering ditemui di berbagai negara. Laporan-laporan mencengangkan sering disampaikan dari daerah Amerika Latin. Ukurannya bisa sangat besar mencapai puluhan hingga ratusan meter.

“Dengan ukurannya yang sangat besar sulit dibilang kalau bentuk-bentuk raksasa semacam itu dibuat manusia. Jadi bisa diambil kesimpulan, ada makhluk lain yang membuatnya,” kata Dudi Sudibyo, pengamat penerbangan yang juga pemerhati UFO.

Meski demikian, ia tak memungkiri bahwa crop circle bisa jadi juga dibuat manusia. Apalagi, yang di Yogyakarta ukurannya tidak sebesar crop circle di Amerika Latin yang ukurannya mencapai puluhan hingga ratusan meter.

“Pendekatan ilmiah tetap harus dikedepankan. Saya kira masyarakat tak bisa mengabaikannya begitu saja. Perlu diteliti lebih lanjut,” kata Dudi.

Ia mengatakan, pihak-pihak yang tertarik meneliti sebaiknya segera mendokumentasikannya seperti mengambil gambar secara rinci, mengukur dimensinya, termasuk menginvestigasi bagaimana crop circle itu dapat muncul di lokasi tersebut.

Ada sejumlah ahli yang sebelumnya telah mencoba merekonstruksi pembuatan crop circle tersebut. Menurutnya, hal itu memang bukan hal mustahil meskipun harus dengan perhitungan matematika yang cermat.

Namun, sampai sekarang crop circle yang pernah ditemukan tetap saja menjadi misteri karena tak ada yang mengaku membuatnya. Nah, bagaimana dengan crop circle di Yogyakarta, akankah tetap menjadi misteri?

Akibat Angin
“Angin lesus yang menyebabkan pola itu terbentuk,” kata Misran (44) berargumen. Ia mengisahkan, kemarin ia baru mengikuti sosialisasi pertanian dan muncul banyak wacana, termasuk soal pembentukan angin lesus.

Tak hanya berhenti di situ, Misran menguatkan argumentasinya dengan menyebut bahwa angin lesus itu merupakan tanda yang dikirimkan tuhan. “Para tetua desa menafsirkan kejadian itu karena angin lesus winasis,” ujarnya sambil menyeruput kopi.

Beberapa warga yang antusias mendengar analisis Misran semakin tertarik dengan cerita yang disampaikan, apalagi saat ia panjang lebar mengisahkan soal angin winasis itu.

“Pola yang muncul akibat angin winasis merupakan tanda dari Tuhan,” katanya. Misran tidak menyebut tanda apa yang dimaksud. (Tribun Jogja/Diaz R dan Hendy K)

Baca juga Artikel:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s