Dicari: Pria yang Setia!….

Dewasa ini kita mengalami krisis figur pria yang layak menjadi panutan. Terlalu banyak pria yang justru menyebarkan citra negatif; akibatnya, kita kehilangan kesempatan belajar dari figur pria yang positif. Beberapa citra negatif yang kerap merebak adalah: tidak setia, kasar, semena-mena, mau menang sendiri, mementingkan diri dan tidak memikirkan orang, kejam, penipu, tidak jujur, berkedok kebaikan untuk mencapai maksudnya, Tidak rohani, Tidak bisa mengusai diri, Mudah jatuh ke dalam pencobaan.

Sebenarnya, pria seperti apakah yang mencerminkan citra kristiani?
ROHANI — mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya dan takut akan Tuhan. Yusuf berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Tuhan?” (Kejadian 39:9)
RENDAH HATI — bersedia mengakui dan belajar dari kesalahan, bersedia meminta maaf. Daud berkata kepada Nabi Natan, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” (2 Samuel 12:13)
PEDULI DENGAN YANG LAIN — tidak mementingkan diri melainkan memikirkan kepentingan orang. Doa Musa kepada Tuhan untuk umat Israel yang tengah memberontak, “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari.” (Bilangan 14:19)
LEMBUT — tidak menyalahgunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menguasai emosinya. Daud melarang orang-orang-Nya membunuh Saul, “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan…” (1 Samuel 24:7)
BERANI — berprinsip dan rela membayar harga untuk keyakinannya. Sikap Mordekhai kepada Haman, “Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira; tetapi ketika Haman melihat Mordekhai di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit dan tidak bergerak menghomrati dia, maka sangatpanaslah hati Haman kepada Mordekhai.” (Ester 5:9)
SETIA — kepada Tuhan dan keluarganya. “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Tuhan di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s