Wowong Dakonia, Berbagi Beras ala Desa Kanonang

Semangat gotong royong, salah satu nilai luhur yang menjadi karakteristik bangsa Indonesia rupanya belum lekang tergerus zaman. Buktinya, di salah satu desa di Sulawesi Utara, kecamatan Kawangkoan Barat, kabupaten Minahasa, pada saat individualisme menjangkiti setiap aspek kehidupan, masyarakat desa Kanonang Dua bisa bahu-membahu untuk mengatasi kekurangan pangan yang melanda sebagian warganya.

Menyadari sebagian warganya masih dirundung kekurangan pangan, terutama beras, anggota masyarakat lainnya yang bernasib lebih baik memiliki kesadaran untuk mengadakan program urunan beras. Caranya adalah tiap-tiap warga  menyisihkan beras ke dalam bambu setiap kali memasak. Tradisi ini dikenal dengan sebutan wowong diakonia, perpaduan dari kata wowong yang berarti bilah bambu (bahasa setempat) dan diakonia (Yunani) yang memiliki makna berbagi untuk sesama.

Lalu pada tiap akhir pekan semua bilah bambu yang telah terisi beras tersebut akan di-collect oleh perangkat desa dari tiap-tiap rumah warga yang berkontribusi, kemudian didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Inisiatif ini ternyata telah ditetapkan dengan payung hukum yaitu Peraturan Desa Kanonang Dua No. 4 tahun 2014.

Nah, lalu bagaimana dengan menu pendampingnya? Tak perlu khawatir, Desa Kanonang Dua dikaruniai alam yang subur. “Hasil kebun kita kan banyak ya. Ikan juga banyak, jadi bisa teratasi. Maka dari itu gotong-royong dan toleransi warga, meski sederhana tapi punya nilai sosial tinggi,” ujar  dr Deny Mangala, MSi, asisten I Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Minahasa pada Jumat 18 november 2016 lalu.

Tak ayal, program tersebut membuat desa Kanonang 2 sukses meraih juara 1 Lomba Desa Tingkat Nasional Regional 3 Wilayah Sulawesi dan Kalimantan tahun 2016, Desa Inovatif Pilihan Tempo 2016, dan Penghargaan Adhi Karya Pangan Nusantara 2016.wowong-diakonia

Program ini menjadi sebuah inovasi yang berangkat dari kearifan lokal atau tradisi masyarakat setempat yang patut diteladani, ditiru dan diaplikasikan oleh daerah-daerah lainnya dalam upaya mengatasi masalah pangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s